Asiasatunews.com, Kotabaru – Menghadapi musim kemarau yang berpotensi memicu berbagai persoalan kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kotabaru memperkuat langkah pencegahan dengan tidak hanya berfokus pada penanganan penyakit, tetapi juga menyasar faktor lingkungan, ketersediaan air bersih, sanitasi, serta kondisi masyarakat di wilayah kepulauan.
Hal itu disampaikan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru, Muhammad Ukas, saat dikonfirmasi awak media melalui pesan WhatsApp, Rabu (7/10/2026).
“Betul, paradigma kesehatan harus kita perluas. Kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit dan Puskesmas, tetapi juga sangat dipengaruhi iklim, air bersih, sanitasi dan lingkungan,” tegas Ukas.
Menurutnya, menghadapi musim kemarau saat ini, Dinkes tidak hanya fokus mengobati, tetapi bergerak mencegah penyakit sejak dari sumber risikonya.
“Kita perkuat kesehatan lingkungan, surveilans penyakit, edukasi PHBS dan koordinasi lintas sektor. Jadi kita tidak hanya mengobati dampak, tetapi mencegah penyakit sejak dari lingkungan,” jelasnya.
Ukas juga menyoroti beban berat tenaga kesehatan, terutama yang bertugas di wilayah kepulauan dan pedalaman Kotabaru. Luasnya wilayah dan keterbatasan akses menjadi tantangan psikologis tersendiri.
“Ini menjadi perhatian kami. Beban nakes di wilayah terpencil memang memiliki tantangan tersendiri. Karena itu kita terus memperkuat pembinaan, pemerataan SDM, dukungan psikososial dan komunikasi dengan Puskesmas,” ujarnya.
Ia menegaskan, tenaga kesehatan adalah ujung tombak yang harus dijaga kesejahteraannya, bukan hanya dituntut melayani.
Terkait persoalan stunting yang masih menjadi pekerjaan rumah besar, Muhammad Ukas meluruskan bahwa stunting bukan hanya soal kurang gizi. Akar masalahnya jauh lebih kompleks, mulai dari pola asuh, sanitasi buruk, krisis air bersih, penyakit infeksi berulang, hingga kondisi kesehatan ibu.
“Intervensinya harus dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan dilakukan bersama lintas sektor. Target kita bukan sekadar menurunkan angka, tetapi memastikan anak Kotabaru tumbuh sehat dan berkualitas,” tegasnya.
Sebagai jawaban atas tantangan geografis, Dinkes Kotabaru menyiapkan inovasi layanan terintegrasi untuk masyarakat kepulauan.
Saat ini, 28 Puskesmas menjadi ujung tombak pelayanan, diperkuat dengan pelayanan kesehatan bergerak dan sistem rujukan yang dipercepat melalui PSC 119 Kotabaru yang telah beroperasi.
“Ke depan, kita ingin mengintegrasikan Puskesmas, pelayanan bergerak, PSC 119 dan rumah sakit sehingga jarak geografis tidak menjadi alasan masyarakat kepulauan terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan,” pungkas Ukas.










